PT Gudang Garam Tbk melaporkan adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat yang berdampak pada peningkatan pangsa pasar sigaret kretek tangan (SKT). Dalam acara Public Expose Live 2026, Direktur Gudang Garam, Heru Budiman, mengungkapkan bahwa konsumen kelas menengah ke bawah kini cenderung beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau akibat tekanan daya beli yang belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan data perseroan, pangsa pasar kategori SKT dan sigaret kretek klobot (SKL) tercatat meningkat signifikan menjadi 33,4 persen pada semester I 2026, dibandingkan 27,1 persen pada tahun 2023. Sebaliknya, volume industri rokok secara nasional pada periode Januari-Juni 2026 mengalami penurunan sebesar 6,8 persen menjadi 105,1 miliar batang, dengan penurunan merata di kategori sigaret kretek mesin (SKM) maupun sigaret putih. Perbedaan beban cukai menjadi faktor utama yang membuat harga SKT jauh lebih kompetitif dibandingkan SKM.
Direktur Gudang Garam lainnya, Istata Siddharta, menyoroti fenomena downtrading di mana konsumen berpindah dari produk berharga tinggi ke produk yang lebih murah, termasuk potensi beralih ke rokok ilegal yang tidak membayar cukai. Meski demikian, pihak perusahaan mengakui tidak memiliki data pasti mengenai berapa besar volume konsumsi yang beralih ke rokok ilegal. Di sisi lain, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat peningkatan penindakan rokok ilegal sebesar 100 persen, yakni mencapai 1,2 miliar batang hingga Juli 2026, guna mengamankan penerimaan negara di tengah kebijakan tarif cukai hasil tembakau yang dipertahankan tahun ini.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi Meski Rupiah Menguat ke Level Rp17.500 per Dolar AS
Artikel ini dibantu penulisannya oleh AI, dirangkum dari: ANTARA News – Terkini (Nasional) (sumber).










