Pelaku pasar keuangan global kini menyoroti potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang diprediksi akan berlanjut hingga akhir tahun 2026. Proyeksi ini muncul merespons data farm-payroll AS yang masih menunjukkan angka tinggi, ditambah dengan kekhawatiran mengenai inflasi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Investment Director Sucor Asset Management, Dimas Yusuf, menilai arah kebijakan The Fed saat ini masih diliputi ketidakpastian, terutama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh yang belum memberikan panduan arah kebijakan secara gamblang. Meski demikian, Dimas mencatat probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (Bps) terus meningkat, dengan peluang mencapai 60% pada September 2026 mendatang.
Potensi kebijakan agresif dari The Fed ini dinilai akan menciptakan posisi dilematis bagi Bank Indonesia. Otoritas moneter dalam negeri kini harus menyeimbangkan strategi antara menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal dan upaya untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Baca Juga: China Siap Perkuat Kemitraan Strategis dan Kerja Sama di KTT BRICS
Artikel ini dibantu penulisannya oleh AI, dirangkum dari: CNBC Indonesia – Market (sumber).










