Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 0,17% dan menutup hari di posisi Rp17.530 per dolar AS. Hasil ini berbalik arah dari pembukaan perdagangan pagi hari yang sempat menguat 0,03% ke level Rp17.495 per dolar AS.
Koreksi ini sekaligus memutus tren positif rupiah yang pada perdagangan Rabu (9/9/2026) sempat mencatatkan penguatan tajam sebesar 0,71% ke level Rp17.500 per dolar AS. Meskipun melemah hari ini, rupiah secara historis masih berada di kisaran level terkuatnya dalam hampir 17 pekan terakhir. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,10% ke posisi 98,721 pada pukul 15.00 WIB, tertahan oleh penguatan mata uang yen Jepang.
Pergerakan nilai tukar saat ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, khususnya lonjakan harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz antara Iran dan AS. Gangguan pasokan energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke titik tertinggi sejak 2023. Pasar kini bersiap menyambut data inflasi produsen dan konsumen AS menjelang rapat The Federal Reserve pada 15-16 September, di mana terdapat peluang 60% kenaikan suku bunga bulan ini.
Menanggapi gejolak harga minyak dunia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa APBN Indonesia masih mampu menahan beban hingga harga minyak di kisaran US$100 per barel. Purbaya menegaskan pemerintah belum berencana menambah kuota subsidi energi karena asumsi defisit fiskal 2,85% terhadap PDB telah memperhitungkan skenario harga energi saat ini. Pemerintah tetap berkomitmen memantau perkembangan situasi global secara intensif.
Baca Juga: Sempat Dibuka Menguat, IHSG Berbalik Melemah 0,58 Persen di Sesi Pertama
Artikel ini dibantu penulisannya oleh AI, dirangkum dari: CNBC Indonesia – Market (sumber).










