Data terbaru dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan tren menarik dalam pasar keuangan domestik. Mayoritas investor ritel yang menempatkan dananya pada Surat Berharga Negara (SBN), baik berupa Surat Utang Negara (SUN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), didominasi oleh kaum perempuan. Fenomena ini terlihat konsisten pada penerbitan berbagai seri surat utang sepanjang tahun 2025 hingga 2026.
Sebagai contoh, pada seri ORI027 di tahun 2025, dari total 86.624 investor, 58% di antaranya adalah perempuan. Tren serupa juga tercatat pada seri ORI028 dengan porsi 58,44% dari 38.355 investor, serta SBR014 dengan 58% dari 51.198 investor. Tren dominasi ini berlanjut hingga tahun 2026, di mana pada seri ORI029, sebanyak 57,86% dari 42.612 investor merupakan perempuan, dan pada ORI030, perempuan menguasai 57,75% dari total 102.546 investor. Pola yang sama pun terjadi pada instrumen syariah, di mana investor perempuan untuk ST014 mencapai 57,43% dan pada ST016 mencapai 58,74%.
Dari sisi demografi usia, generasi milenial menjadi motor penggerak utama dalam investasi ini. Pada seri ORI027, milenial mendominasi dengan porsi 45,9%, diikuti oleh Gen X sebesar 31,5%, Baby Boomer 17,1%, Gen Z 4,5%, dan tradisionalis 1%. Komposisi yang relatif sama juga ditemukan pada seri-seri lainnya. Adapun dari sisi nilai emisi, pemerintah telah menerbitkan SUN ritel sebesar Rp67,78 triliun pada 2025 dan Rp54,44 triliun hingga Agustus 2026. Sementara untuk SBSN ritel, realisasinya mencapai Rp84,93 triliun pada 2025 dan Rp40,11 triliun pada 2026.
Baca Juga: BCA Catat Lonjakan Dana Kelolaan Investasi hingga Rp339 Triliun per Juni 2026
Artikel ini dibantu penulisannya oleh AI, dirangkum dari: CNBC Indonesia – Market (sumber).










