Jakarta menjadi saksi diselenggarakannya Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Minggu. Forum yang mempertemukan lebih dari 300 pemimpin strategis di bidang pendidikan dan sektor lainnya ini secara resmi mendeklarasikan dorongan terhadap transformasi sistem pendidikan global menuju pendekatan yang lebih holistik, dengan integrasi kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan secara etis.
Rektor UNIDA Gontor sekaligus Ketua Peringatan 100 Tahun Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, menekankan bahwa di era disrupsi teknologi, penilaian terhadap individu tidak boleh hanya bersandar pada algoritma AI. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus tetap mengedepankan pembentukan jati diri dan integritas manusia. Menurutnya, sistem pendidikan saat ini cenderung terlalu fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga sering kali melupakan pilar-pilar pendidikan mendasar yang digariskan UNESCO dan para ahli.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Panitia GIHES 2026, KH Anang Rikza Masyhadi dan Kiai Hadiyanto Arief, menegaskan bahwa pendidikan berkualitas harus melampaui sekadar proses belajar mengajar. Teknologi AI dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Pendidikan holistik dituntut mampu menjawab tantangan kemanusiaan yang kompleks, mulai dari isu lingkungan hingga perdamaian dunia, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kecanggihan teknis semata. Dengan pertemuan ini, para tokoh strategis diharapkan mampu merumuskan arah pendidikan yang seimbang antara kemajuan intelektual dan ketangguhan karakter.
Baca Juga: Bakom Tekankan Kesadaran Kolektif dan Frekuensi Bersama Wujudkan Indonesia Emas 2045
Artikel ini dibantu penulisannya oleh AI, dirangkum dari: ANTARA News – Terkini (Nasional) (sumber).










