Pernahkah Anda merasa sudah siap beristirahat setelah mematikan lampu kamar, namun pikiran justru mendadak aktif memikirkan berbagai hal? Fenomena berpikir berlebihan atau overthinking saat hendak tidur merupakan pengalaman umum yang sering kali mengganggu kualitas istirahat seseorang. Kondisi ini membuat berbagai memori masa lalu, kecemasan pekerjaan, hingga keresahan akan masa depan muncul secara bersamaan di saat tubuh seharusnya rileks.
Terdapat beberapa faktor yang memicu kondisi ini. Pertama, hilangnya distraksi dari aktivitas harian di siang hari membuat ruang menjadi sunyi, sehingga pikiran yang terpendam muncul ke permukaan. Secara biologis, kelelahan juga menurunkan fungsi prefrontal cortex yang mengatur logika, sementara bagian otak yang merespons rasa takut atau amygdala tetap aktif. Selain itu, otak cenderung masuk ke mode Default Mode Network (DMN) saat tidak fokus pada tugas, yang memicu proses perenungan atas stres yang terakumulasi seharian. Penggunaan gawai sebelum tidur pun turut memperburuk situasi karena paparan cahaya biru (blue light) dapat menekan hormon melatonin dan konten media sosial sering kali memicu respons emosional baru.
Untuk memutus rantai overthinking ini, sejumlah metode dapat dicoba agar tubuh lebih siap memasuki fase istirahat. Salah satu cara yang disarankan adalah melakukan brain dump, yakni menuliskan semua beban pikiran di buku catatan sebelum beranjak ke tempat tidur. Selain itu, melatih teknik pernapasan lambat atau melakukan meditasi ringan dapat membantu menenangkan sistem saraf pusat secara efektif.
Selain menerapkan metode menenangkan diri bagi orang dewasa, menciptakan suasana yang nyaman bagi si kecil juga penting agar waktu istirahat orang tua lebih terjaga. Anda bisa mengandalkan [Garansi 30 hari]SWETY Ayunan Bayi Otomatis Elektrik Lipat Baby Swing-baby bouncer electric untuk mendukung kenyamanan buah hati dengan fitur praktis yang dapat menunjang aktivitas harian di rumah. [Garansi 30 hari]SWETY Ayunan Bayi Otomatis Elektrik Lipat Baby Swing-baby bouncer electric.
Baca Juga: Memahami Kondisi Testis dengan Ukuran dan Posisi Berbeda, Apakah Normal?
Artikel ini dibantu penulisannya oleh AI, dirangkum dari: ANTARA News – Terkini (Nasional) (sumber).










