LRT Jabodebek memasang target untuk melayani lebih dari 30 juta penumpang hingga akhir tahun 2026. Target tersebut dinilai realistis mengingat hingga Agustus 2026, jumlah pengguna moda transportasi berbasis teknologi nir masinis ini telah mencapai 21,81 juta penumpang.
Executive Vice President (EVP) LRT Jabodebek, Suryawan Putra Hia, mengungkapkan bahwa tren pertumbuhan penumpang menunjukkan angka yang signifikan sejak pertama kali beroperasi pada 2023 dengan total 4,5 juta penumpang. Pada tahun 2024, jumlah tersebut meningkat drastis menjadi 21,06 juta penumpang, dan berlanjut hingga 25,82 juta penumpang sepanjang tahun 2025. Menurut Suryawan, tingkat okupansi pada hari kerja saat ini bahkan telah melampaui 100 persen.
Guna menjaga kualitas dan kenyamanan, manajemen LRT Jabodebek berkomitmen melakukan sejumlah perbaikan, termasuk penambahan jadwal perjalanan pada jam sibuk antara pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, di mana okupansi mencapai 150 persen. Pihak pengelola juga akan melakukan integrasi jadwal dengan kereta cepat agar penumpang dari Dukuh Atas bisa tiba di Stasiun KCIC Halim sebelum keberangkatan kereta pertama. Selain itu, perbaikan infrastruktur seperti penerangan, kehandalan eskalator, lift, serta sistem pendingin ruangan di sejumlah stasiun juga menjadi prioritas.
Direktur Operasi, Prasarana, dan Keselamatan Area II PT KAI, Dadan Rudiansyah, menekankan pentingnya konsistensi dalam memberikan layanan. Ia mengingatkan manajemen dan karyawan LRT Jabodebek agar tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian saat ini. Mengingat statusnya sebagai penugasan negara, Dadan berharap pelayanan moda transportasi ini terus meningkat seiring bertambahnya usia operasional demi memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Baca Juga: Tren Positif, LRT Jabodebek Kian Diminati untuk Mobilitas Kerja hingga Rekreasi Akhir Pekan
Artikel ini dibantu penulisannya oleh AI, dirangkum dari: ANTARA News – Terkini (Nasional) (sumber).










